KITAB KHULASHOH NURUL YAQIN - USTDAZAH SYARIFAH SOFIYAH SYECKH ASSEGAF

 

KITAB KHULASHOH NURUL YAQIN

USTDAZAH SYARIFAH SOFIYAH SYECKH ASSEGAF

 

MATERI : KETIKA RASULULLAH DI ASUH OLEH ABU THALIB (ABDU MANAF)

Majelis Ta’lim Banatuzzakiyyah

 

 


Habib Umar BIn Hafidzh

Ketika Rasulullah kecil  beliau mengembala kambing orang makkah biar dapat upah (hujjrah) buat kehidupan sehari-hari dan ketika usia 9 tahun Rasulullah pergi ke kota Syam bersama Abu Thalib untuk berdagang. Rasulullah ketika meninggal kakeknya Abdul Muthalib diserahkan kepada pamannya dan sudah menganggap sebagai anaknya sendiri bahkan lebih sayang daripada anak-anaknya. Saat beliau tidur di sampingnya harus ada Rasulullah karena khawatir ada yang menyakiti Rasulullah, Rasulullah pun mendapatkan perhatian khusus dari pamannya.

Ada yang mengatakan Rasulullah itu di asuh oleh 2 orang pamannya. Yang pertama Abu Thalib (Abdu Manaf) dan Zubair.

Abu Thalib melihat ada yang menampak keberkahannya dari diri Rasulullah SAW. Pada saat makan pun Rasulullah selalu didahulukan karena ketika makanan itu tersentuh olehnya maka keberkahan akan ada dari diri Rasulullah SAW, dan keluarga pamannya akan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Rasulullah sejak bayi diasuh oleh orang yang kehidupannya sangat sederhana atau bisa dibilang pas-pas’an namun ketika ada Rasulullah maka keluarga tersebut akan menjadi cukup dan keberkahan selalu menyertainya.

“ Sungguh engkau anak yang di berkahinya” (Pamannya berkata), bahkan sang istri abu thalib sangat mencintainya pula kepada Rasulullah melebihi sayangnya kepada anak-anaknya. Ketika Rasulullah bangun dari tidurnya, Rasulullah sudah bercelak, rambutnya rapih, dan memakai wangi-wangian namun pada hakikatnya Rasulullah pun sudah wangi dari lahirnya. Mengapa Rasulullah memakai wangi-wangian?? Karena ingin mengajarkan kepada kita sebagai ummatnya.

Ummu aiman tidak pernah mendengar ada kata yang keluar dari mulut Rasulullah yaitu Lapar ataupun haus baik dari masa kecilnya hingga masa besarnya, karena ummu aiman itu yang merawat Rasulullah dari bayi sampai beliau wafat. “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah haus ataupun lapar, ia hanya cukup minum air zam-zam dan beliau memiliki keistimewaan.”

Pamannya menyiapkan tempat khusus untuk Rasulullah seperti kakeknya, dengan duduknya dia disini memiliki kemuliaan dan keagungan. Bahkan yang mendampingi Nabi sudah tau kemuliaan tersebut dari diri Rasulullah SAW. Rasulullah SAW ga pernah pisah sama pamannya sampai Rasulullah usia 9 tahun.

Ketika pamannya ingin pergi ke syam, sejak itu pamannya ingin meninggalkannya namun Rasulullah sudah memegangi tali unta pamannya dengan bermaksud ingin diajak oleh pamannya, padahal untuk tiba di kota syam itu butuh waktu berbulan-bulan. Setelah itu Rasulullah SAW berkata kepadanya “wahai pamanku Abu Thalib, kamu mau titipin aku kesiapa?, aku tidak punya ayah dan ibu.”, lalu dengan tidak teganya abu thalib dia menjawab “Demi Allah aku harus membawamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu selamanya.”

Perjalanan dari kota makkah ke kota syam itu sangat panjang banyak tempat para pendeta yang bisa kita sebut sebagai rest areanya romobongan abu thalib.

Kata pendeta (1), pendeta bertanya : “ Ini anak siapa kamu wahai abu thalib??”, lalu abu thalib menjawab “dia anakku”, dengan rasa tidak percaya sang pendeta lalu dia berkata “bukan, ini bukan anakmu pantasnya dia tak punya ayah sejak dalam kandungannya dan tak punya ibu saat dia usia 6 tahun dan anak ini nabi akhir zaman yang membenarkan ajaran Allah.”, setelah itu abu thalib berkata :” wahai keponakanku apakah kau mendengar apa yang dikatakan oleh beliau, jangan kamu ingkari?”, kata rasulullah “Ya, aku mendengar apa yang dikatakan olehnya.”

Rabbah bukhairo adalah orang yang sangat pendiam, seorang pendeta yang berada di kota Syam.

ketika Rasulullah berjalan mengikuti rombongannya maka dia selalu diikuti oleh awan agar ia tidak kepanasan. Saat tiba di kota Syam rombongan beristirahat sejenak sambil menghadiri undangan dari seorang pendeta yang berada di kota Syam yang bernama Bukhairo. Bukhairo ini sangat menunggu kedatangan beliau (Rasulullah SAW) hingga yang biasanya ia tidak pernah menyiapkan makanan yang banyak maka dengan kedatangan tamu yang agung beliau menyiapkan makanan yang sangat luar biasa. Lalu ketika semuanya sedang makan bukhairo memberikan pertanyaan kepada Rasulullah SAW “Demi Latta dan Uzza jawab pertanyaan saya.”

Rasulullah menjawab “kalo demi patung tersebut saya tidak akan menjawab, kalau demi Allah SWT saya akan menjawab.” Dalam hati si pendeta tersebut (wah bener nih nabi akhir zaman yang saya tunggu-tunggu). Lalu pendeta memberikan pertanyaan lagi kepada Rasulullah SAW “Demi Allah apakah kamu pernah mengalami sesuatu?”, lalu Rasulullah SAW menjawab dengan sangat jelas peristiwa apa saja yang ia alami tanpa adanya kebohongan sedikit pun. Setelah berbincang-bincang dan mendapatkan jawaban yang menurut si pendeta sudah cukup, lalu si pendeta datang kepada Abu Thalib. Si pendeta berbicara “bawalah pulang keponakanmu dan jangan melanjutkan perjalanannya maka ia akan di bunuh dengan orang-orang yang tidak suka kepadanya” dengan manut maka pamannya mengajak Rasulullah kembali ke kota Makkah.

 

Wahallahu ala bishowab

_Fakir Ilmu_   

Comments

Popular posts from this blog

MENGENAL LEBIH DALAM KOTA TARIM

KITAB MUKHTARUL HADIST - Pengarang Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim Bin Hafidz. - Ustadzah Zahra Bin Yahya

SEKEPING RINDU UNTUK MADINAH - Syarifah Fatima Musawa